CARA BERPAKAIAN
PELAJAR DAN MAHASISWA
DALAM UPAYA MELESTARIKAN
BUDAYA SOPAN SANTUN
DI KOTA MALANG
ke menu utama
Latar Belakang
Lembaga pendidikan sebagai tempat untuk
menggembleng para generasi muda supaya menjadi insan-insan yang berguna bagi
nusa bangsa, negara dan agama. Dalam dunia pendidikan tidak hanya ilmu
pengetahuan yang dikembangkan tetapi semua aspek yang meliputi: moral, etika,
sopan dan santun, fisik motorik, dan ketrampilan hidup lain yang ada pada
setiap individu juga wajib dikembangkan secara optimal. Namun pada saat ini
lembaga pendidikan di Indonesia telah mengalami kemunduran secara moral, etika,
sopan santun, hal ini dapat dibuktikan
dengan pakaian yang dipakai oleh pelajar dan mahasiswa di lembaga
pendidikan cenderung menggunakan baju yang kurang menutup bagian tubuh. Hal ini
disebabkan trend mode pakaian yang semakin berkembang seiring kemajuan
zaman.
Realita yang terjadi
saat ini banyak pelajar dan mahasiswa suka menggunakan pakaian yang ketat dan
terbuka. Pelajar dan mahasiswa perempuan yang berpenampilan trendy menggunakan
pakaian ketat, terbuka hingga tali pusat, punggung dan celana dalamnya
kelihatan.
Trend mode pakaian yang ketat cenderung diminati oleh para
remaja yang umumnya mereka masih bersekolah di jenjang pendidikan, SMP, SMA dan
bahkan di Perguruan Tinggi.
Trend pakaian yang sedang berkembang sekarang ini berupa pakaian yang ketat dan
terbuka. Pemakai
pakaian model ini banyak diikuti oleh pelajar dan mahasiswa perempuan. Mereka lebih merasa
percaya diri jika pakaiannya sesuai dengan trend yang sedang berkembang.
Para pelajar dan mahasiswa ini rela mengorbankan uang biaya sekolah/kuliahnya
demi memburu trend pakaian yang sedang berkembang. Penggunaan pakaian
yang ketat dan terbuka, sebenarnya
bertentangan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berkembang
dimasyarakat. Pakaian yang sesuai norma dan dapat diterima masyarakat berbentuk
sederhana, longgar dan menutup bagian pusat, bahu, dan pinggang.
Maka sudah sepantasnya sekolah/lembaga pendidikan sebagai tempat mendidik
generasi muda negara membuat sebuah cara untuk mengatasi masalah ini, karena
sekolah bukan hanya mendidik orang menjadi pandai tetapi juga untuk mendidik
seorang belajar moral, etika dan sopan santun. Maka dengan adanya permasalahan
yang sedang berkembang di masyarakat, memotivasi penulis mengadakan penelitian
terhadap masalah ini untuk memperoleh sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi
masalah ini.
KAJIAN PUSTAKA
A. Pakaian
Dan Kehidupan Sosial Di Indonesia
Pakaian merupakan ekspresi tentang gaya
hidup dan mencerminkan perbedaan status sosial. (Henk Schulte
Nordholt:hal 1). Cara seseorang memilih pakaian dapat mencerminkan
status, martabat, hirarki, gender, dan agama, yang mengandung makna simbolik.
Barangkali ungkapan klasik tentang “kehormatan diri terletak pada kata-kata dan
kehormatan raga terletak pada pakaian”, sangat tepat menggambarkan masalah ini.
Pakaian bukan sekadar menandai perbedaan dan
kesamaan di dalam masyarakat, tapi juga media untuk mengekspresikan sikap
tertentu terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing. Sejarah
pakaian adalah sejarah tentang perebutan panggung publik kekuasaan, pandangan
sosial, politik, ideologi, dan bahkan agama. Semua hal ini melekat-erat dalam
pakaian baju, celana, sepatu, topi, dompet, ikat pinggang, dan lainnya. Sadar
atau tidak, pakaian telah membentuk citra diri dan identitas setiap orang yang
membedakan dengan “yang lain”.
Pakaian laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan
karena jika dipandang secara psikologis dapat dilihat bahwa laki-laki dan perempuan itu
berbeda. Perempuan cenderung tidak tertarik secara visual, sedangkan laki-laki
sangat mudah tertarik secara visual. Karena itu dalam hal ini banyak perempuan
yang tidak bisa mengerti kalau penampilannya akan sangat mempengaruhi laki-laki
di sekitarnya secara psikologis. Wajar sekali kalau bagi perempuan dalam urusan
ini banyak yang akan mengatakan, “itu suatu kewajaran hanya pikiran orang yang
melihatnya saja, perempuan seperti ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan
menggoda laki-laki” sedangkan bagi laki-laki, perempuan sexy tersebut menggoda
bahkan kadang kala merangsang laki-laki. Memang betul bahwa banyak laki-laki
mempunyai pikiran kotor bahkan sebelum melihat si sexy, tetapi tanpa ada
pikiran tersebut pun penampilan perempuan yang terlalu terbuka tidak bisa
dipastikan mengganggu para laki-laki. Sekali lagi itu terjadi karena natur
laki-laki yang mudah tertarik secara visual. Perempuan tidak bisa begitu saja
menyalahkan laki-laki akan ketertarikan atau keterangsangan laki-laki kepada
perempuan yang berpakaian minim tersebut. Sebaliknya, laki-laki juga tidak bisa
begitu saja menyalahkan penampilan perempuan yang agak terbuka tersebut. Mereka
mengenakan pakaian tersebut karena berbagai alasan, misalnya:
2.
Tuntutan Para Laki-laki. Para pria lebih tertarik kepada
perempuan sexy sehingga wanita sexy relatif lebih mudah mendapatkan pasangan
daripada perempuan berpenampilan tertutup. Jadi wajar saja para perempuan
akhirnya juga secara tidak langsung terpaksa mengikuti tuntutan tersebut.
Demikian juga banyak laki-laki yang menuntut pasangannya untuk berpenampilan
menarik di depan banyak orang.Jadi ini adalah kesalahan para laki-laki sendiri juga.
http://asksophia.wordpress.com/2008/03/31/masalah-pakaian-sexy-
B. Fungsi Pakaian
Pakaian berfungsi menutup tubuh, pakaian juga merupakan pernyataan perlambangan seseorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga berusaha selalu menutupi aurat.Dari sekian banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang pakaian, dapat ditemukan paling tidak ada empat fungsi pakaian:a. Al-Quran surat Al-A'raf (7): 26 menjelaskan dua fungsi
pakaian: Wahai putra putri Adam, sesungguhnya Kami telahmenurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik.
Ayat ini setidaknya menjelaskan dua fungsi pakaian, yaitu penutup aurat dan perhiasan.b. Al-Quran surat Al-A'raf (7): 27 Wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua.
(QS Al-A'raf [7]: 27) berbicara tentang larangan mengikuti setan yang menyebabkan terbukanya aurat orang tua manusia (Adam dan Hawa).c. Al-Quran surat Al-A'raf (7): 31 memerintahkan memakai pakaian indah pada saat memasuki masjid.
d. Ayat 35 adalah kewajiban taat kepada tuntunan Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya (tentu termasuk tuntunan berpakaian).
Ini menunjukkan bahwa sejak dini Allah Swt telah mengilhami manusia sehingga timbul dalam dirinya dorongan untuk berpakaian, bahkan kebutuhan untuk berpakaian, seperti diisyaratkan oleh surat Thaha (20): 117-118, yang mengingatkan Adam bahwa jika ia terusir dari surga karena setan, tentu ia akan bersusah payah di dunia untuk mencari sandang, pangan,dan papan. Dorongan tersebut diciptakan Allah dalam naluri manusia yang memiliki kesadaran kemanusiaan. Itu sebabnya terlihat bahwa manusia primitif pun selalu menutupi apa yang dinilainya sebagai aurat. C. Etika Berpakaian Tangani Gejala Sosial
Pihak Berkuasa Tempatan (PBT) seluruh negara sebaiknya membuat
undang-undang untuk mengambil tindakan terhadap remaja yang berpakaian kurang
sopan atau mencolok mata di lembaga-lembaga pendidikan. Beberapa lembaga
menganggap itu menjadi suatu yang pantas untuk dilakukan. Selain untuk mendidik
remaja juga berfungsi memperkukuh jati diri agar tidak ikut-ikutan dengan gaya,
cara berpakaian dan trend negara Barat. http://www.harakahdaily.net/
Dalam sebuah surat kabar melaporkan bahwa lembaga pendidikan perlu
menetapkan etika berpakaian. Presiden Persatuan Penggerak Pembangunan Komuniti
Malaysia (Macom), Norizan Sharif, misalnya akan membuat definisi yang
dimaksudkan sebagai pakaian tidak sopan atau pakaian yang dilarang oleh
Pemerintah. Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Putra Malaysia (PMIUPM)
mendukung gagasan yang dibuat NGO itu. PMIUPM melihat perkara yang dibuat itu
sebagai sesuatu yang penting dan perlu diteliti dan diambil tindakan PBT.
Saat ini
jika dilihat corak berpakaian masyarakat Malaysia di lembaga-lembaga pendidikan
terutama di bandar besar semakin rusak dan tidak sopan. Banyak yang berpakaian
mencolok mata sehingga menimbulkan masalah seperti pelecehan terhadap kaum
wanita dan pemerkosaan. Aturan berpakaian yang dibentuk bertujuan mendukung
cara berpakaian remaja saat ini. Tetapi
jika dilihat ini lebih ditekankan kepada usaha mewujudkan kesadaran
bersama agar setiap individu dalam masyarakat menghormati hak anggota
masyarakat lain.
Seperti
dibangkitkan oleh NGO, pembentukan aturan berpakaian itu juga penting dari
sudut bagi mengukuhkan jati diri dan gaya hidup di kalangan remaja. Jika diperhatikan,
kebanyakan remaja lebih terpengaruh dengan cara berpakaian trend negara Barat.
Hal ini menimbulkan kekhawtiran karena akan menghancurkan kebudayaan yang
berkembang di negara Malaysia pada khususnya. Kepentingan mewujudkan peraturan
berpakaian ini tidak boleh ditunda lagi.
PMIUPM juga
melihat pewujudan etika berpakaian di lembaga pendidikan perlu dan penting
untuk ditekankan baik di sekolah maupun Perguruan Tinggi. Justru, PMIUPM
menyeru agar pihak yang bertanggungjawab memperteguhkan pelaksanaan etika
berpakaian dan etika pergaulan demi menyelamatkan generasi muda yang akan
mewarisi negara ini. (Moh Hassan Sukiman, Presiden Persatuan Mahasiswa Islam
UPM)
D. Etika Berpakaian Mahasiswa Di
Universitas Negeri Malang
Phenix (1964) dalam
materi PKPT Universitas Negeri Malang 2005: menyatakan bahwa dunia etik itu
termasuk makna-makna moral yang mengekspresikan kewajiban, bentuk-bentuk
perseptual, atau kesadaran relasional. Djahiri (1992) dalam materi PKPT
Universitas Negeri Malang 2005: dalam materi PKPT Universitas Negeri Malang
2005 memandang bahwa jika nilai dan moral menjadi ketetapan hati, kemudian
menjadi ketetapan perbuatan, maka akan menjadi tugas dan kewajiban. Etika itu
berkaitan dengan dengan prinsip-prinsip baik buruk, benar salah, yang diterima
oleh sekelompok orang tertentu.Etika Perguruan Tinggi dengan demikian dapat
diartikan sebagai prinsip-prisip benar salah, baik buruk yang diterima oleh
komunitas Perguruan Tinggi.
Salah satu etika yang
dilaksanakan di Universitas Negeri Malang adalah etika berpakaian. Pada saat
PKPT (Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi) telah disampaikan tata cara
berpakaian di lingkungan kampus. (Semiawan, 1984) dalam materi PKPT Universitas
Negeri Malang 2005: Menyatakan bahwa Potongan baju, warna, dan dandanan seseorang
akan menggambarkan dan memberi ciri-ciri khusus terhadap penampilan lahiriah
seseorang. Memakai pakaian yang sopan dan cocok dengan tempat, situasi, dan
waktu akan menunjukkan bahwa seseorang itu mempunyai tatakrama.
Pergi kuliah hendaknya
mengenakan pakaian yang potongannya sopan, dan dari bahan yang tidak mewah.
Selain itu juga perlu diperhatikan kombinasi warna, ukuran, potongan pakaian,
sehingga itu pantas untuk digunakan karena akan terlihat bersih, rapi, sopan,
sederhana. Bersih rapi dan sopan dalam berpakaian akan memberi nilai tambah
tersendiri bagi penampilan seseorang. Pakaian membawa kesan pertama yang
dilihat seseorang dan merupakan penentu penilaian seseorang.
PEMBAHASAN
A. Trend
Pakaian Para Pelajar Dan Mahasiswa Di Kota Malang
Berdasarkan data dari kegiatan observasi
tentang trend mode pakaian para pelajar
dan mahasiswa di kota Malang diperoleh hasil sebagai berikut: Kota Malang
sebuah kota pendidikan di Wilayah Jawa Timur yang mempunyai berbagai lembaga
pendidikan, mulai dari Play group sampai Perguruan Tinggi. Hal ini
mengakibatkan para remaja dari daerah lain, seperti Blitar, Tulungagung,
Trenggalek dan kota lainnya pergi berbondong-bondong ke kota Malang dengan
tujuan menuntut ilmu. Pada umumnya para remaja yang menuntut ilmu di kota
Malang berumur antara 15 sampai dengan 25 tahun. Para remaja ini bersekolah
atau kuliah di sekolah dan di PTN/PTS di kota Malang.
Dengan bertambahnya para pelajar dan mahasiswa menjadikan kota Malang,
menjadi kota terbesar nomor 2 setelah Surabaya. Kota Malang semakin ramai, dan
ini yang mendorong para pengusaha mengembangkan usahanya di kota Malang. Usaha para pengusaha yang ramai
pada saat ini salah satunya dalam dunia pakaian.
Di kota malang, semua kebutuhan dapat dengan mudah diperoleh dengan
menggunakan satu syarat yaitu memiliki uang. Salah satu kebutuhan pokok dari
para pelajar dan mahasiswa adalah pakaian. Alasan ini yang membuat para pelajar
dan mahasiswa sangat suka untuk mengejar trend pakaian terbaru yang disebabkan
oleh adanya istilah jika tidak ikut trend pakaian terbaru tidak gaul.
Pada umumnya para pelajar dan mahasiswa yang selalu mengejar trend pakaian
terbaru adalah pelajar dan mahasiswa yang tidak berjilbab. Hal ini juga
disebabkan oleh model pergaulan para pelajar dan mahasiswa ini yang cenderung
bebas mempertontonkan bagian-bagian tubuh dan trend mode pakaian terbaru
pada saat ini cenderung ketat dan terbuka yang menampakkan lekuk tubuh
pemakainya sehingga kelihatan sexy. Trend pakaian yang terbaru selalu
diminati oleh pelajar dan mahasiswa baik itu laki-laki maupun perempuan. Namun
pada sekarang ini pelajar dan mahasiswa perempuan cenderung lebih aktif untuk
mengikuti trend terbaru dalam dunia pakaian dari pada laki-laki. Hal ini
dapat dilihat dari ramainya toko-toko pakaian yang dikunjungi oleh para pelajar
dan mahasiswa untuk mencari trend mode terbaru. Para pelajar dan mahasiswa pada umumya ke
toko-toko pakaian pada saat tanggal awal/gajian pegawai atau pada saat uang
kiriman dari orang tua dikirim.
Sebenarnya adanya pelajar dan
mahasiswa yang mengikuti trend juga tidak dapat disalahkan karena ini
merupakan salah satu dari kemajuan zaman. Apalagi kalau di pandang dari sudut
pandang psikologi yang mengatakan bahwa para pelajar dan mahasiswa sedang
mengalami masa-masa puber yang mengakibatkan ingin selalu ingin tampil menarik
di depan lawan jenis, sehingga mereka melakukan upaya dengan selalu mengikuti trend
terbaru. Pemakaian pakaian yang
terbuka dan ketat oleh para pelajar dan mahasiswa juga merupakan salah satu
cara untuk menarik lawan jenis.
Namun adanya trend pakaian yang cenderung ketat dan terbuka membawa
dampak buruk dalam perkembangan moral. Apalagi hal ini diimplementasikan oleh
para pelajar dan mahasiswa dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan merupakan
tempat untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas berpengetahuan luas, cerdas
norma dan etika, sehingga pelajar dan mahasiswa dapat menjadi penerus negara
Indonesia dengan cerdas dan mempunyai budaya sopan santun dalam sikap, ucapan,
dan perbuatan. Sikap sopan santun dapat terlihat dari cara berpakaian pelajar dan
mahasiswa. Namun pada saat ini penggunaan pakaian dalam dunia pendidikan sama
dengan pakaian yang digunakan oleh pelajar dan mahasiswa waktu jalan-jalan di
luar waktu menuntut ilmu.
Para pelajar yang menggunakan pakaian seragam waktu di sekolah banyak yang
memodifikasi pakaiannya menjadi trend mode yang sedang berkembang. Misalnya:
memodifikasi rok sekolah mereka menjadi pendek dan ketat, hal ini banyak
dipengaruhi oleh trend pakaian yang banyak berkembang. Para pelajar ini
pada umumnya meniru pakaian yang dipakai oleh para artis di layar televisi.
Pengaruh layar televisi sangat besar untuk mempengaruhi mode pakaian
remaja, bahkan pakaian sekolah pun juga ikut menjadi korban modifikasi,
sehingga kesan formal menjadi luntur.
Realita di atas terjadi di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Malang,
hal ini merupakan sampel saja dari beberapa sekolah yang ada di kota Malang
bahkan di Indonesia pada umumnya. Realita ini juga terjadi dalam kehidupan
pendidikan dijenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Pendidikan di
Perguruan Tinggi memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk memakai pakaian yang
sesuai dengan minat mahasiswa sendiri dan hanya memberi peraturan sopan, rapi
dan bersih. Peraturan yang tidak begitu mengikat membuat mahasiswa berpakaian
dengan seenaknya sendiri. Bahkan dari mahasiswa laki-laki ada yang menggunakan
kaos tanpa kerah dan celana yang memperlihatkan sebagian pantatnya untuk pergi
kuliah, sedangkan yang dilakukan para mahasiswa perempuan juga tidak kalah dari
mahasiswa laki-laki. Para mahasiswa perempuan cenderung menggunakan pakaian
yang ketat dengan memperlihatkan tali pusat dan punggungnya. Selain itu
warna-warna yang digunakan oleh mahasiswa tersebut cederung mencolok dan tabrakan.
Para mahasiswa sebagai aset negara yang akan mengembangkan dan melestarikan
budaya negara ini sudah tidak mempedulikan kesopanan dalam berpakaian. Mereka
tidak malu memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh dan terbuka. Dalam
diri pelajar dan mahasiswa malah timbul kebanggaan tersendiri jika dapat
mengikuti trend yang sedang berkembang, hal menunjukkan mulai lunturnya
etika sopan santun di negara ini.
B. Pandangan Masyarakat Terhadap Adanya Budaya Pakaian
yang Ketat dan Terbuka Di Dunia Pendidikan dan Penanganannya
a. Aparat
keamanan
Pandangan aparat keamanan mengenai pelajar dan mahasiswa
yang memakai pakaian terbuka dan ketat di kota Malang. Seorang Polisi dari
KAMTIBMAS mengatakan bahwa adanya pelajar dan mahasiswa memakai pakaian yang
ketat atau terbuka banyak memicu tindak kriminal seperti pelecehan dan
pemerkosaan. Korban pelecehan atau pemerkosaan pada umumnya dialami oleh para
pelajar atau mahasiswa perempuan, karena mereka merupakan obyek yang melakukan
atau memakai pakaian tersebut. Bentuk tubuh perempuan cukup membuat para
laki-laki merasa terangsang untuk melakukan pelecehan maupun pemerkosaan. Dalam
mengatasi masalah ini diperlukan kerjasama oleh banyak pihak terutama orang tua
dan guru untuk memberi pengertian kepada putra-putrinya.
b. Tokoh
Agama
Para tokoh agama sangat mengkhawatir dengan adanya para
pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian ketat dan terbuka di lingkup dunia
pendidikan karena mereka merupakan penerus bangsa dan negara. Memakai
pakaian yang terbuka dan ketat tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Padahal
dalam Al-Quran telah dijelaskan etika berpakaian yang harus dilaksanakan
seorang muslim. Terutama oleh muslimah, karena aurat perempuan adalah seluruh
tubuh kecuali wajah, tangan dan telapak kaki. Namun yang terjadi pada saat ini
malah sebaliknya para perempuan cenderung memamerkan tubuhnya dengan rasa
bangga di depan umum. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani masalah ini
dengan lebih meningkatkan pengetahuan agama para pelajar dan mahasiswa,
sehingga mereka mempunyai pengetahuan agama yang luas dan didorong untuk
melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
c. Tokoh
Akademisi
Para akademisi memandang pelajar dan mahasiswa yang
memakai pakaian yang ketat dan terbuka dalam dunia pendidikan merupakan kemajuan
zaman yang berdampak kepada lunturnya budaya sopan santun yang selama ini
menjadi identitas bangsa dan negara Indonesia. Masalah ini perlu segera
diselesaikan, upaya yang dapat ditempuh dengan membiasakan budaya malu kepada
pelajar dan mahasiswa. Para pendidik baik di sekolah maupun di kampus sebaiknya
mendidik mereka dengan menumbuhkan rasa malu pada diri sendiri. Cara yang dapat
ditempuh dengan meminta pelajar atau mahasiswa yang berpakaian ketat dan
terbuka untuk menghapus papan tulis, dengan cara seperti itu secara langsung
bagian belakang dari pakaian yang ketat akan terangkat dan punggung dari
pelajar atau mahasiswa tersebut akan kelihatan oleh teman-temannya. Teman-teman
yang melihatnya secara spontan akan menertawakannya. Dan inilah yang membuat
orang bersangkutan tersebut merasa malu.
d. Tokoh
Masyarakat
Menurut pendapat seorang tokoh masyarakat, adanya pelajar
dan mahasiswa yang memakai pakaian yang ketat atau terbuka semuanya tergantung
pada keadaan orang tua, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Pelajar
dan mahasiswa tumbuh dan berkembang dengan baik karena pengaruh pendidikan yang
diberikan oleh orang tua, karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama.
Beliau juga mengatakan: timbulnya pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian
ketat dan terbuka dapat dikurangi dengan cara memperbaiki kekurangan yang ada
dalam keluarga, termasuk dalam perbaikan pola pendidikan keluarga.
Perbaikan pola
pendidikan dapat dilaksanakan dengan menambah pengetahuan orang tua
untuk mendidik putra-putri mereka secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman
yang terus berkembang, sehingga dengan demikian budaya sopan dalam berpakaian
tetap dapat di pertahankan.
C. Alternatif Penanganan Lunturnya Budaya Berpakaian
Sopan Dalam Dunia Pendidikan
Dengan melihat realita yang terjadi terhadap masalah berkembangnya trend
pakaian di dunia pendidikan yang semakin melunturkan etika sopan santun,
sehingga diperlukan alternatif model penanganan yang
perlu diuji cobakan terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Adanya model ini
tidak terlepas dari alternatif penanganan yang telah dilakukan pada waktu yang
lalu, karena diperolehnya model ini dengan cara mengkaji penanganan yang telah
dilakukan. Misalnya: penetapan seragam untuk
para pelajar.
Model penanganan untuk masalah ini dapat dilakukan dengan
membiasakan para pelajar dan mahasiswa untuk memakai pakaian yang formal.
Pembiasaan ini dapat dilakukan waktu pelajar atau mahasiswa baru mengikuti
kegiatan belajar mengajar di sekolah atau di kampus tersebut. Pembiasaan tanpa
ada aturan akan terasa kurang tepat, sehingga untuk memecahkan masalah ini
diperlukan aturan dan sanksi yang tegas dari lembaga yang bersangkutan.
Menetapkan aturan cara berpakaian, sebagai salah satu alternatif yang dapat
diikuti dengan cara-cara sebagai berikut:
Memasang
poster yang berisi moto-moto di sekolah-sekolah atau di kampus, sehingga dengan
mudah akan dibaca oleh pelajar dan mahasiswa. Supaya isi moto-moto tersebut
dapat dilaksanakan oleh pelajar dan mahasiswa diperlukan aturan-aturan yang
tegas dengan sanksi yang tegas. Salah satu contoh tulisan untuk membuat
seseorang memakai pakaian yang sopan dapat dibuat tulisan sebagai berikut: Tiada
kesan tanpa penampilan yang baik. Penampilan yang baik tercermin dari pakaian yang kita pakai.
Cara untuk mendapatkan citra berpakaian yang baik dapat dilakukan upaya
sebagai berikut:
a.
Memakai pakaian dengan ukuran yang pas.
b.
Usahakan pakaian rapi dan tidak kedodoran.
c.
Usahakan model pakaian yang sopan (pakaian atasan menutup
bagaian atas sampai ke pinggang, berkerah, lengan tertutup sampai ke bahu,
pakaian bagian bawah harus longgar, menutup bagian tubuh sampai ke pinggang,
dan semuanya baik atasan maupun bawahan longgar)
d.
Pilih warna yang tidak menyolok dan bertabrakan.
e.
Pilih model pakaian yang tidak terlalu kuno.
Aturan seperti di atas perlu ditulis dan dijadikan aturan yang resmi
sehingga para pelajar dan mahasiswa sulit untuk melanggarnya. Dengan aturan
seperti di atas pelajar dan mahasiswa masih dapat menentukan model pakaian yang
mereka inginkan namun hanya mode pakaian tertentu yang dapat dipakai. Kesan
terlalu mengikat juga masih dapat dihindarkan, sehingga dengan cara seperti ini
pelajar dan mahasiswa tidak akan memprotes keputusan yang telah dibuat.
Kesimpulan
Berdasarkan dari penelitian “tentang cara berpakaian para pelajar dan
mahasiswa di kota Malang” maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Faktor yang mempengaruh para pelajar dan
mahasiswa memakai pakaian yang ketat dan terbuka adalah faktor psikologis dari
mereka yang masih dalam usia remaja yang mempunyai keinginan selalu tampil
menarik di depan lawan jenis. Selain itu adanya istilah tidak ikut trend
terbaru tidak gaul.
2.
Pada umumnya semua komponen masyarakat tidak
setuju dengan adanya para pelajar dan mahasiswa berpakain ketat dan terbuka dalam
dunia pendidikan maupun dalam pergaulan di sekolah karena ini dianggap tidak
sopan.
3.
Penggunaan pakaian yang ketat dan terbuka
memicu timbulnya tindak kejahatan seperti pelecehan, pemerkosaan dan tindak
kekerasan lainnya. Selain itu kesan tidak sopan dan murahan akan selalu
menempel pada diri orang yang memakai pakaian tersebut.
4. Dalam
menangani masalah ini suatu lembaga pendidik dapat membuat dan menetapkan
aturan secara jelas dan tertulis yang kemudian disosialisasikan kepada pelajar
dan mahasiswa di lembaga pendidikan tersebut.
Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas diajukan rekomendasi sebagai
berikut:
1.
Orang tua atau pendidik sebaiknya lebih
memperhatikan perkembangan putra putrinya, memberi pengertian mengenai etika
sopan santun. Perlu ditekankan oleh orang tua bahwa ketertarikan lawan jenis
tidak hanya disebabkan oleh penampilan tetapi oleh faktor lain, seperti:
kecocokan dalam segi sifat.
2.
Sebaiknya para desainer membuat pakaian yang
sopan ”tidak ketat dan terbuka” sehingga para pelajar dan mahasiswa masih dapat
tampil gaul dengan pakaian yang sopan.
3.
Pelajar dan mahasiswa merupakan bagian dari
masyarakat untuk menangani masalah ini perlu adanya kerjasama banyak pihak.
Cara-cara yang dapat dilakukan dengan memberi pengtahuan kepada para pelajar
dan mahasiswa tentang adap sopan santun berpakaian baik dari sudut pandang
agama maupun adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Cara ini untuk
meminimalkan terjadinya tindak kejahatan yang sering terjadi pada pelajar dan
mahasiswa.
4.
Dalam menangani masalah ini lembaga
pendidikan sebagai tempat berkumpulnya pelajar dan mahasiswa sebaiknya
melaksanakan peraturan yang dibuat secara terus menerus dan berkelanjutan dari
waktu ke waktu.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Quran
surat Al-A'raf (7): ayat
26, 27 , 312 dan 35.
Al-Qur’an surat surat Thaha (20): ayat 117-118.
Dalam Materi
PKPT 2005. Semiawan, C. 1984. Tatakrama
Membangun Keselamatan Bersama.
Semarang. Wiyata.
Dalam Materi PKPT 2005. Phenix,
P.H.1964. Realms
of Meaning.
Dalam Materi PKPT 2005. Djahiri, A. K.
1992. Dunia Afektif Nilai Moral. Bandung: Lab. PMP IKIP.
.(http://asksophia.wordpress.com/2008/03/31/masalah-pakaian-sexy-)
Noordholt, Henk Schulte.2005. Trend, Identitas, Kepentingan, Penerjemah,
Yogyakarta M. Imam Aziz.. Terjemahan
dari: Outward
Appearances:
Moh Hassan Sukiman, Presiden Persatuan Mahasiswa
Islam Universiti Putra Malaysia.2006. Etika
Berpakaian dan Pengaruhnya http://www.harakahdaily.net 4/7/2008
Tim Penyusuan materi PKPT.2005. Materi Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi. Universitas Negeri Malang.