CARA BERPAKAIAN

PELAJAR DAN MAHASISWA

DALAM UPAYA MELESTARIKAN

BUDAYA SOPAN SANTUN

DI KOTA MALANG

ke menu utama                                                                                                                           

Latar Belakang

 Lembaga pendidikan sebagai tempat untuk menggembleng para generasi muda supaya menjadi insan-insan yang berguna bagi nusa bangsa, negara dan agama. Dalam dunia pendidikan tidak hanya ilmu pengetahuan yang dikembangkan tetapi semua aspek yang meliputi: moral, etika, sopan dan santun, fisik motorik, dan ketrampilan hidup lain yang ada pada setiap individu juga wajib dikembangkan secara optimal. Namun pada saat ini lembaga pendidikan di Indonesia telah mengalami kemunduran secara moral, etika, sopan santun, hal ini dapat dibuktikan  dengan pakaian yang dipakai oleh pelajar dan mahasiswa di lembaga pendidikan cenderung menggunakan baju yang kurang menutup bagian tubuh. Hal ini disebabkan trend mode pakaian yang semakin berkembang seiring kemajuan zaman.

Realita yang terjadi saat ini banyak pelajar dan mahasiswa suka menggunakan pakaian yang ketat dan terbuka. Pelajar dan mahasiswa perempuan yang berpenampilan trendy menggunakan pakaian ketat, terbuka hingga tali pusat, punggung dan celana dalamnya kelihatan.

Trend mode pakaian yang ketat cenderung diminati oleh para remaja yang umumnya mereka masih bersekolah di jenjang pendidikan, SMP, SMA dan bahkan di Perguruan Tinggi. Para remaja yang tidak berseragam di sekolah menggunakan kesempatan untuk berdandan sesuai dengan kemauannya sendiri, tidak memikirkan sopan dan tidaknya. Walaupun demikian para pelajar SMP, SMA yang berseragam juga masih mengikuti trend mode pakaian yang sedang berkembang dengan memodifikasi pakaian seragam sekolahnya sesuai trend. Apalagi para remaja yang sudah kuliah di PTN/PTS yang tidak menggunakan pakaian seragam/almamater dalam kegiatan belajar di kampus cenderung mengikuti trend model yang sedang berkembang.

Trend pakaian yang sedang berkembang sekarang ini berupa pakaian yang ketat dan terbuka. Pemakai pakaian model ini banyak diikuti oleh pelajar dan mahasiswa perempuan. Mereka lebih merasa percaya diri jika pakaiannya sesuai dengan trend yang sedang berkembang. Para pelajar dan mahasiswa ini rela mengorbankan uang biaya sekolah/kuliahnya demi memburu trend pakaian yang sedang berkembang. Penggunaan pakaian yang ketat dan terbuka, sebenarnya  bertentangan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berkembang dimasyarakat. Pakaian yang sesuai norma dan dapat diterima masyarakat berbentuk sederhana, longgar dan menutup bagian pusat, bahu, dan  pinggang.

Maka sudah sepantasnya sekolah/lembaga pendidikan sebagai tempat mendidik generasi muda negara membuat sebuah cara untuk mengatasi masalah ini, karena sekolah bukan hanya mendidik orang menjadi pandai tetapi juga untuk mendidik seorang belajar moral, etika dan sopan santun. Maka dengan adanya permasalahan yang sedang berkembang di masyarakat, memotivasi penulis mengadakan penelitian terhadap masalah ini untuk memperoleh sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

 

 

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Pakaian Dan Kehidupan Sosial Di Indonesia

Pakaian merupakan ekspresi tentang gaya hidup dan mencerminkan perbedaan status sosial. (Henk Schulte Nordholt:hal 1). Cara seseorang memilih pakaian dapat mencerminkan status, martabat, hirarki, gender, dan agama, yang mengandung makna simbolik. Barangkali ungkapan klasik tentang “kehormatan diri terletak pada kata-kata dan kehormatan raga terletak pada pakaian”, sangat tepat menggambarkan masalah ini.

Pakaian bukan sekadar menandai perbedaan dan kesamaan di dalam masyarakat, tapi juga media untuk mengekspresikan sikap tertentu terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing. Sejarah pakaian adalah sejarah tentang perebutan panggung publik kekuasaan, pandangan sosial, politik, ideologi, dan bahkan agama. Semua hal ini melekat-erat dalam pakaian baju, celana, sepatu, topi, dompet, ikat pinggang, dan lainnya. Sadar atau tidak, pakaian telah membentuk citra diri dan identitas setiap orang yang membedakan dengan “yang lain”.

Pakaian laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan karena jika dipandang secara psikologis dapat dilihat bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Perempuan cenderung tidak tertarik secara visual, sedangkan laki-laki sangat mudah tertarik secara visual. Karena itu dalam hal ini banyak perempuan yang tidak bisa mengerti kalau penampilannya akan sangat mempengaruhi laki-laki di sekitarnya secara psikologis. Wajar sekali kalau bagi perempuan dalam urusan ini banyak yang akan mengatakan, “itu suatu kewajaran hanya pikiran orang yang melihatnya saja, perempuan seperti ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan menggoda laki-laki” sedangkan bagi laki-laki, perempuan sexy tersebut menggoda bahkan kadang kala merangsang laki-laki. Memang betul bahwa banyak laki-laki mempunyai pikiran kotor bahkan sebelum melihat si sexy, tetapi tanpa ada pikiran tersebut pun penampilan perempuan yang terlalu terbuka tidak bisa dipastikan mengganggu para laki-laki. Sekali lagi itu terjadi karena natur laki-laki yang mudah tertarik secara visual. Perempuan tidak bisa begitu saja menyalahkan laki-laki akan ketertarikan atau keterangsangan laki-laki kepada perempuan yang berpakaian minim tersebut. Sebaliknya, laki-laki juga tidak bisa begitu saja menyalahkan penampilan perempuan yang agak terbuka tersebut. Mereka mengenakan pakaian tersebut karena berbagai alasan, misalnya:

  1. Tuntutan sosial zaman. Orang abad 19 akan menganggap kita yang mengenakan pakaian kemeja plus rok tertutup selutut sebagai perempuan murahan karena zaman mereka orang memang selalu menggunakan pakaian tertutup yang melebihi sekarang. Zaman terus berubah, apa yang dulu dibilang terlalu terbuka makin lama makin biasa dan tidak lagi terasa salah. Ukuran mengenai sopan tidak sopannya pakaian berubah menurut masa dan relatif berbeda-beda tiap pribadi. Selain itu, sekalipun itu tidak boleh mengikuti mentah-mentah perkembangan trend mode pakaian, namun secara sosial trend mode pakaian ini tidak bisa begitu saja disingkirkan, atau perkembangan psikologi dari perempuan tersebut bisa terganggu.(http://asksophia.wordpress.com/2008/03/31/masalah-pakaian sexy-)

2.      Tuntutan Para Laki-laki. Para pria lebih tertarik kepada perempuan sexy sehingga wanita sexy relatif lebih mudah mendapatkan pasangan daripada perempuan berpenampilan tertutup. Jadi wajar saja para perempuan akhirnya juga secara tidak langsung terpaksa mengikuti tuntutan tersebut. Demikian juga banyak laki-laki yang menuntut pasangannya untuk berpenampilan menarik di depan banyak orang.Jadi ini adalah kesalahan para laki-laki sendiri juga.

http://asksophia.wordpress.com/2008/03/31/masalah-pakaian-sexy-

B. Fungsi Pakaian 
Pakaian berfungsi menutup tubuh, pakaian juga merupakan pernyataan perlambangan seseorang dalam masyarakat. Sebab berpakaian merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga berusaha selalu menutupi aurat.
Dari  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  yang  berbicara  tentang pakaian,   dapat  ditemukan  paling  tidak  ada  empat  fungsi pakaian:
a.      Al-Quran  surat  Al-A'raf  (7):  26  menjelaskan  dua   fungsi
pakaian: Wahai putra putri Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepada kamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan), dan pakaian takwa itulah yang paling baik. 
Ayat  ini  setidaknya  menjelaskan  dua  fungsi pakaian, yaitu  penutup aurat dan perhiasan.
b.      Al-Quran  surat  Al-A'raf  (7):  27 Wahai putra-putra Adam, janganlah sekali-kali kamu  dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia (telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan  kepada keduanya aurat mereka berdua.
(QS Al-A'raf [7]: 27) berbicara tentang larangan mengikuti setan yang menyebabkan terbukanya aurat orang tua manusia (Adam dan Hawa).
c.      Al-Quran  surat  Al-A'raf  (7):  31 memerintahkan memakai pakaian indah pada saat memasuki masjid.
d.      Ayat 35 adalah kewajiban taat kepada tuntunan Allah  yang disampaikan oleh para rasul-Nya (tentu termasuk tuntunan berpakaian).
 
Ini menunjukkan bahwa sejak dini Allah Swt telah  mengilhami manusia   sehingga   timbul   dalam   dirinya  dorongan  untuk berpakaian, bahkan  kebutuhan  untuk  berpakaian,  seperti diisyaratkan oleh surat Thaha (20): 117-118, yang mengingatkan Adam bahwa jika ia terusir dari surga karena setan,  tentu  ia akan  bersusah  payah  di dunia untuk mencari sandang, pangan,dan papan. Dorongan tersebut  diciptakan  Allah  dalam  naluri manusia  yang memiliki  kesadaran  kemanusiaan.  Itu sebabnya terlihat bahwa manusia primitif pun selalu menutupi  apa  yang dinilainya sebagai aurat.
 
C. Etika Berpakaian Tangani Gejala Sosial

Pihak Berkuasa Tempatan (PBT) seluruh negara sebaiknya membuat undang-undang untuk mengambil tindakan terhadap remaja yang berpakaian kurang sopan atau mencolok mata di lembaga-lembaga pendidikan. Beberapa lembaga menganggap itu menjadi suatu yang pantas untuk dilakukan. Selain untuk mendidik remaja juga berfungsi memperkukuh jati diri agar tidak ikut-ikutan dengan gaya, cara berpakaian dan trend negara Barat. http://www.harakahdaily.net/

Dalam sebuah surat kabar melaporkan bahwa lembaga pendidikan perlu menetapkan etika berpakaian. Presiden Persatuan Penggerak Pembangunan Komuniti Malaysia (Macom), Norizan Sharif, misalnya akan membuat definisi yang dimaksudkan sebagai pakaian tidak sopan atau pakaian yang dilarang oleh Pemerintah. Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Putra Malaysia (PMIUPM) mendukung gagasan yang dibuat NGO itu. PMIUPM melihat perkara yang dibuat itu sebagai sesuatu yang penting dan perlu diteliti dan diambil tindakan PBT.

Saat ini jika dilihat corak berpakaian masyarakat Malaysia di lembaga-lembaga pendidikan terutama di bandar besar semakin rusak dan tidak sopan. Banyak yang berpakaian mencolok mata sehingga menimbulkan masalah seperti pelecehan terhadap kaum wanita dan pemerkosaan. Aturan berpakaian yang dibentuk bertujuan mendukung cara berpakaian remaja saat ini. Tetapi  jika dilihat ini lebih ditekankan kepada usaha mewujudkan kesadaran bersama agar setiap individu dalam masyarakat menghormati hak anggota masyarakat lain.

Seperti dibangkitkan oleh NGO, pembentukan aturan berpakaian itu juga penting dari sudut bagi mengukuhkan jati diri dan gaya hidup di kalangan remaja. Jika diperhatikan, kebanyakan remaja lebih terpengaruh dengan cara berpakaian trend negara Barat. Hal ini menimbulkan kekhawtiran karena akan menghancurkan kebudayaan yang berkembang di negara Malaysia pada khususnya. Kepentingan mewujudkan peraturan berpakaian ini tidak boleh ditunda lagi.

PMIUPM juga melihat pewujudan etika berpakaian di lembaga pendidikan perlu dan penting untuk ditekankan baik di sekolah maupun Perguruan Tinggi. Justru, PMIUPM menyeru agar pihak yang bertanggungjawab memperteguhkan pelaksanaan etika berpakaian dan etika pergaulan demi menyelamatkan generasi muda yang akan mewarisi negara ini. (Moh Hassan Sukiman, Presiden Persatuan Mahasiswa Islam UPM)

D. Etika Berpakaian Mahasiswa Di Universitas Negeri Malang

Phenix (1964) dalam materi PKPT Universitas Negeri Malang 2005: menyatakan bahwa dunia etik itu termasuk makna-makna moral yang mengekspresikan kewajiban, bentuk-bentuk perseptual, atau kesadaran relasional. Djahiri (1992) dalam materi PKPT Universitas Negeri Malang 2005: dalam materi PKPT Universitas Negeri Malang 2005 memandang bahwa jika nilai dan moral menjadi ketetapan hati, kemudian menjadi ketetapan perbuatan, maka akan menjadi tugas dan kewajiban. Etika itu berkaitan dengan dengan prinsip-prinsip baik buruk, benar salah, yang diterima oleh sekelompok orang tertentu.Etika Perguruan Tinggi dengan demikian dapat diartikan sebagai prinsip-prisip benar salah, baik buruk yang diterima oleh komunitas Perguruan Tinggi.

Salah satu etika yang dilaksanakan di Universitas Negeri Malang adalah etika berpakaian. Pada saat PKPT (Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi) telah disampaikan tata cara berpakaian di lingkungan kampus. (Semiawan, 1984) dalam materi PKPT Universitas Negeri Malang 2005: Menyatakan bahwa Potongan baju, warna, dan dandanan seseorang akan menggambarkan dan memberi ciri-ciri khusus terhadap penampilan lahiriah seseorang. Memakai pakaian yang sopan dan cocok dengan tempat, situasi, dan waktu akan menunjukkan bahwa seseorang itu mempunyai tatakrama.

Pergi kuliah hendaknya mengenakan pakaian yang potongannya sopan, dan dari bahan yang tidak mewah. Selain itu juga perlu diperhatikan kombinasi warna, ukuran, potongan pakaian, sehingga itu pantas untuk digunakan karena akan terlihat bersih, rapi, sopan, sederhana. Bersih rapi dan sopan dalam berpakaian akan memberi nilai tambah tersendiri bagi penampilan seseorang. Pakaian membawa kesan pertama yang dilihat seseorang dan merupakan penentu penilaian seseorang.

 

PEMBAHASAN

 

A. Trend Pakaian Para Pelajar Dan Mahasiswa Di Kota Malang

 

Berdasarkan data dari kegiatan observasi tentang  trend mode pakaian para pelajar dan mahasiswa di kota Malang diperoleh hasil sebagai berikut: Kota Malang sebuah kota pendidikan di Wilayah Jawa Timur yang mempunyai berbagai lembaga pendidikan, mulai dari Play group sampai Perguruan Tinggi. Hal ini mengakibatkan para remaja dari daerah lain, seperti Blitar, Tulungagung, Trenggalek dan kota lainnya pergi berbondong-bondong ke kota Malang dengan tujuan menuntut ilmu. Pada umumnya para remaja yang menuntut ilmu di kota Malang berumur antara 15 sampai dengan 25 tahun. Para remaja ini bersekolah atau kuliah di sekolah dan di PTN/PTS di kota Malang.

Dengan bertambahnya para pelajar dan mahasiswa menjadikan kota Malang, menjadi kota terbesar nomor 2 setelah Surabaya. Kota Malang semakin ramai, dan ini yang mendorong para pengusaha mengembangkan usahanya  di kota Malang. Usaha para pengusaha yang ramai pada saat ini salah satunya dalam dunia pakaian.

Di kota malang, semua kebutuhan dapat dengan mudah diperoleh dengan menggunakan satu syarat yaitu memiliki uang. Salah satu kebutuhan pokok dari para pelajar dan mahasiswa adalah pakaian. Alasan ini yang membuat para pelajar dan mahasiswa sangat suka untuk mengejar trend pakaian terbaru yang disebabkan oleh adanya istilah jika tidak ikut trend pakaian terbaru tidak gaul. Pada umumnya para pelajar dan mahasiswa yang selalu mengejar trend pakaian terbaru adalah pelajar dan mahasiswa yang tidak berjilbab. Hal ini juga disebabkan oleh model pergaulan para pelajar dan mahasiswa ini yang cenderung bebas mempertontonkan bagian-bagian tubuh dan trend mode pakaian terbaru pada saat ini cenderung ketat dan terbuka yang menampakkan lekuk tubuh pemakainya sehingga kelihatan sexy. Trend pakaian yang terbaru selalu diminati oleh pelajar dan mahasiswa baik itu laki-laki maupun perempuan. Namun pada sekarang ini pelajar dan mahasiswa perempuan cenderung lebih aktif untuk mengikuti trend terbaru dalam dunia pakaian dari pada laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari ramainya toko-toko pakaian yang dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa untuk mencari trend mode terbaru. Para  pelajar dan mahasiswa pada umumya ke toko-toko pakaian pada saat tanggal awal/gajian pegawai atau pada saat uang kiriman dari orang tua dikirim.

 Sebenarnya adanya pelajar dan mahasiswa yang mengikuti trend juga tidak dapat disalahkan karena ini merupakan salah satu dari kemajuan zaman. Apalagi kalau di pandang dari sudut pandang psikologi yang mengatakan bahwa para pelajar dan mahasiswa sedang mengalami masa-masa puber yang mengakibatkan ingin selalu ingin tampil menarik di depan lawan jenis, sehingga mereka melakukan upaya dengan selalu mengikuti trend terbaru.  Pemakaian pakaian yang terbuka dan ketat oleh para pelajar dan mahasiswa juga merupakan salah satu cara untuk menarik lawan jenis.

Namun adanya trend pakaian yang cenderung ketat dan terbuka membawa dampak buruk dalam perkembangan moral. Apalagi hal ini diimplementasikan oleh para pelajar dan mahasiswa dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan merupakan tempat untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas berpengetahuan luas, cerdas norma dan etika, sehingga pelajar dan mahasiswa dapat menjadi penerus negara Indonesia dengan cerdas dan mempunyai budaya sopan santun dalam sikap, ucapan, dan perbuatan. Sikap sopan santun dapat terlihat dari cara berpakaian pelajar dan mahasiswa. Namun pada saat ini penggunaan pakaian dalam dunia pendidikan sama dengan pakaian yang digunakan oleh pelajar dan mahasiswa waktu jalan-jalan di luar waktu menuntut ilmu.

Para pelajar yang menggunakan pakaian seragam waktu di sekolah banyak yang memodifikasi pakaiannya menjadi trend mode yang sedang berkembang. Misalnya: memodifikasi rok sekolah mereka menjadi pendek dan ketat, hal ini banyak dipengaruhi oleh trend pakaian yang banyak berkembang. Para pelajar ini pada umumnya meniru pakaian yang dipakai oleh para artis di layar televisi. Pengaruh layar televisi sangat besar untuk mempengaruhi mode pakaian remaja, bahkan pakaian sekolah pun juga ikut menjadi korban modifikasi, sehingga kesan formal menjadi luntur.

Realita di atas terjadi di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Malang, hal ini merupakan sampel saja dari beberapa sekolah yang ada di kota Malang bahkan di Indonesia pada umumnya. Realita ini juga terjadi dalam kehidupan pendidikan dijenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Pendidikan di Perguruan Tinggi memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk memakai pakaian yang sesuai dengan minat mahasiswa sendiri dan hanya memberi peraturan sopan, rapi dan bersih. Peraturan yang tidak begitu mengikat membuat mahasiswa berpakaian dengan seenaknya sendiri. Bahkan dari mahasiswa laki-laki ada yang menggunakan kaos tanpa kerah dan celana yang memperlihatkan sebagian pantatnya untuk pergi kuliah, sedangkan yang dilakukan para mahasiswa perempuan juga tidak kalah dari mahasiswa laki-laki. Para mahasiswa perempuan cenderung menggunakan pakaian yang ketat dengan memperlihatkan tali pusat dan punggungnya. Selain itu warna-warna yang digunakan oleh mahasiswa tersebut cederung mencolok dan tabrakan.

Para mahasiswa sebagai aset negara yang akan mengembangkan dan melestarikan budaya negara ini sudah tidak mempedulikan kesopanan dalam berpakaian. Mereka tidak malu memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh dan terbuka. Dalam diri pelajar dan mahasiswa malah timbul kebanggaan tersendiri jika dapat mengikuti trend yang sedang berkembang, hal menunjukkan mulai lunturnya etika sopan santun di negara ini.

 

B. Pandangan Masyarakat Terhadap Adanya Budaya Pakaian yang Ketat dan Terbuka Di Dunia Pendidikan dan Penanganannya

a. Aparat keamanan

 

Pandangan aparat keamanan mengenai pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian terbuka dan ketat di kota Malang. Seorang Polisi dari KAMTIBMAS mengatakan bahwa adanya pelajar dan mahasiswa memakai pakaian yang ketat atau terbuka banyak memicu tindak kriminal seperti pelecehan dan pemerkosaan. Korban pelecehan atau pemerkosaan pada umumnya dialami oleh para pelajar atau mahasiswa perempuan, karena mereka merupakan obyek yang melakukan atau memakai pakaian tersebut. Bentuk tubuh perempuan cukup membuat para laki-laki merasa terangsang untuk melakukan pelecehan maupun pemerkosaan. Dalam mengatasi masalah ini diperlukan kerjasama oleh banyak pihak terutama orang tua dan guru untuk memberi pengertian kepada putra-putrinya.

 

b. Tokoh Agama

Para tokoh agama sangat mengkhawatir dengan adanya para pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian ketat dan terbuka di lingkup dunia pendidikan karena mereka merupakan penerus bangsa dan negara. Memakai pakaian yang terbuka dan ketat tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Padahal dalam Al-Quran telah dijelaskan etika berpakaian yang harus dilaksanakan seorang muslim. Terutama oleh muslimah, karena aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan telapak kaki. Namun yang terjadi pada saat ini malah sebaliknya para perempuan cenderung memamerkan tubuhnya dengan rasa bangga di depan umum. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani masalah ini dengan lebih meningkatkan pengetahuan agama para pelajar dan mahasiswa, sehingga mereka mempunyai pengetahuan agama yang luas dan didorong untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

c. Tokoh Akademisi

 

Para akademisi memandang pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian yang ketat dan terbuka dalam dunia pendidikan merupakan kemajuan zaman yang berdampak kepada lunturnya budaya sopan santun yang selama ini menjadi identitas bangsa dan negara Indonesia. Masalah ini perlu segera diselesaikan, upaya yang dapat ditempuh dengan membiasakan budaya malu kepada pelajar dan mahasiswa. Para pendidik baik di sekolah maupun di kampus sebaiknya mendidik mereka dengan menumbuhkan rasa malu pada diri sendiri. Cara yang dapat ditempuh dengan meminta pelajar atau mahasiswa yang berpakaian ketat dan terbuka untuk menghapus papan tulis, dengan cara seperti itu secara langsung bagian belakang dari pakaian yang ketat akan terangkat dan punggung dari pelajar atau mahasiswa tersebut akan kelihatan oleh teman-temannya. Teman-teman yang melihatnya secara spontan akan menertawakannya. Dan inilah yang membuat orang bersangkutan tersebut merasa malu.

 

d. Tokoh Masyarakat

 

Menurut pendapat seorang tokoh masyarakat, adanya pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian yang ketat atau terbuka semuanya tergantung pada keadaan orang tua, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Pelajar dan mahasiswa tumbuh dan berkembang dengan baik karena pengaruh pendidikan yang diberikan oleh orang tua, karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Beliau juga mengatakan: timbulnya pelajar dan mahasiswa yang memakai pakaian ketat dan terbuka dapat dikurangi dengan cara memperbaiki kekurangan yang ada dalam keluarga, termasuk dalam perbaikan pola pendidikan  keluarga.

Perbaikan pola  pendidikan dapat dilaksanakan dengan menambah pengetahuan orang tua untuk mendidik putra-putri mereka secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman yang terus berkembang, sehingga dengan demikian budaya sopan dalam berpakaian tetap dapat di pertahankan.

 

C. Alternatif Penanganan Lunturnya Budaya Berpakaian Sopan Dalam Dunia Pendidikan

Dengan melihat realita yang terjadi terhadap masalah berkembangnya trend pakaian di dunia pendidikan yang semakin melunturkan etika sopan santun, sehingga diperlukan alternatif model penanganan yang perlu diuji cobakan terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Adanya model ini tidak terlepas dari alternatif penanganan yang telah dilakukan pada waktu yang lalu, karena diperolehnya model ini dengan cara mengkaji penanganan yang telah dilakukan. Misalnya:  penetapan seragam untuk para pelajar.

Model penanganan untuk masalah ini dapat dilakukan dengan membiasakan para pelajar dan mahasiswa untuk memakai pakaian yang formal. Pembiasaan ini dapat dilakukan waktu pelajar atau mahasiswa baru mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah atau di kampus tersebut. Pembiasaan tanpa ada aturan akan terasa kurang tepat, sehingga untuk memecahkan masalah ini diperlukan aturan dan sanksi yang tegas dari lembaga yang bersangkutan.

Menetapkan aturan cara berpakaian, sebagai salah satu alternatif yang dapat diikuti dengan cara-cara sebagai berikut:

Memasang poster yang berisi moto-moto di sekolah-sekolah atau di kampus, sehingga dengan mudah akan dibaca oleh pelajar dan mahasiswa. Supaya isi moto-moto tersebut dapat dilaksanakan oleh pelajar dan mahasiswa diperlukan aturan-aturan yang tegas dengan sanksi yang tegas. Salah satu contoh tulisan untuk membuat seseorang memakai pakaian yang sopan dapat dibuat tulisan sebagai berikut: Tiada kesan tanpa penampilan yang baik. Penampilan yang baik tercermin  dari pakaian yang kita pakai.

Cara untuk mendapatkan citra berpakaian yang baik dapat dilakukan upaya sebagai berikut:

a.                  Memakai pakaian dengan ukuran yang pas.

b.                  Usahakan pakaian rapi dan tidak kedodoran.

c.                  Usahakan model pakaian yang sopan (pakaian atasan menutup bagaian atas sampai ke pinggang, berkerah, lengan tertutup sampai ke bahu, pakaian bagian bawah harus longgar, menutup bagian tubuh sampai ke pinggang, dan semuanya baik atasan maupun bawahan longgar)

d.                  Pilih warna yang tidak menyolok dan bertabrakan.

e.                  Pilih model pakaian yang tidak terlalu kuno.

Aturan seperti di atas perlu ditulis dan dijadikan aturan yang resmi sehingga para pelajar dan mahasiswa sulit untuk melanggarnya. Dengan aturan seperti di atas pelajar dan mahasiswa masih dapat menentukan model pakaian yang mereka inginkan namun hanya mode pakaian tertentu yang dapat dipakai. Kesan terlalu mengikat juga masih dapat dihindarkan, sehingga dengan cara seperti ini pelajar dan mahasiswa tidak akan memprotes keputusan yang telah dibuat.

 

Kesimpulan

 

Berdasarkan dari penelitian “tentang cara berpakaian para pelajar dan mahasiswa di kota Malang” maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.     Faktor yang mempengaruh para pelajar dan mahasiswa memakai pakaian yang ketat dan terbuka adalah faktor psikologis dari mereka yang masih dalam usia remaja yang mempunyai keinginan selalu tampil menarik di depan lawan jenis. Selain itu adanya istilah tidak ikut trend terbaru tidak gaul.

2.     Pada umumnya semua komponen masyarakat tidak setuju dengan adanya para pelajar dan mahasiswa berpakain ketat dan terbuka dalam dunia pendidikan maupun dalam pergaulan di sekolah karena ini dianggap tidak sopan.

3.     Penggunaan pakaian yang ketat dan terbuka memicu timbulnya tindak kejahatan seperti pelecehan, pemerkosaan dan tindak kekerasan lainnya. Selain itu kesan tidak sopan dan murahan akan selalu menempel pada diri orang yang memakai pakaian tersebut.

4.   Dalam menangani masalah ini suatu lembaga pendidik dapat membuat dan menetapkan aturan secara jelas dan tertulis yang kemudian disosialisasikan kepada pelajar dan mahasiswa di lembaga pendidikan tersebut.

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas diajukan rekomendasi sebagai berikut:

1.      Orang tua atau pendidik sebaiknya lebih memperhatikan perkembangan putra putrinya, memberi pengertian mengenai etika sopan santun. Perlu ditekankan oleh orang tua bahwa ketertarikan lawan jenis tidak hanya disebabkan oleh penampilan tetapi oleh faktor lain, seperti: kecocokan dalam segi sifat.

2.      Sebaiknya para desainer membuat pakaian yang sopan ”tidak ketat dan terbuka” sehingga para pelajar dan mahasiswa masih dapat tampil gaul dengan pakaian yang sopan.

3.      Pelajar dan mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat untuk menangani masalah ini perlu adanya kerjasama banyak pihak. Cara-cara yang dapat dilakukan dengan memberi pengtahuan kepada para pelajar dan mahasiswa tentang adap sopan santun berpakaian baik dari sudut pandang agama maupun adat istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Cara ini untuk meminimalkan terjadinya tindak kejahatan yang sering terjadi pada pelajar dan mahasiswa.

4.      Dalam menangani masalah ini lembaga pendidikan sebagai tempat berkumpulnya pelajar dan mahasiswa sebaiknya melaksanakan peraturan yang dibuat secara terus menerus dan berkelanjutan dari waktu ke waktu.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Quran  surat  Al-A'raf  (7): ayat  26, 27 , 312 dan 35.

Al-Qur’an surat surat Thaha (20): ayat 117-118.

Dalam Materi PKPT 2005. Semiawan, C. 1984. Tatakrama Membangun Keselamatan Bersama. Semarang. Wiyata.

Dalam Materi PKPT 2005. Phenix, P.H.1964. Realms of Meaning. New York: Mc. Graw_Hill Book Company.

Dalam Materi PKPT 2005. Djahiri, A. K. 1992. Dunia Afektif Nilai Moral. Bandung: Lab. PMP IKIP.

.(http://asksophia.wordpress.com/2008/03/31/masalah-pakaian-sexy-)

Noordholt, Henk Schulte.2005. Trend, Identitas, Kepentingan, Penerjemah, Yogyakarta M. Imam Aziz.. Terjemahan dari: Outward Appearances: Dressing State and Society in Indonesia.

Moh Hassan Sukiman, Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Universiti Putra Malaysia.2006. Etika Berpakaian dan Pengaruhnya http://www.harakahdaily.net 4/7/2008

Tim Penyusuan materi PKPT.2005. Materi Pengenalan Kehidupan Perguruan Tinggi. Universitas Negeri Malang.

ke menu utama